Aku masih termangu. Sial. Video bokep Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Hawin, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Shit! Lalu dikocok-kocok sebentar. Apakah perlu menhitung kancing. Ke bawah: Tidak. Lalu asyik membuka tabloid. Mendadak jari tanganku dingin semua.Wajahku merah padam. Atau apalah? Jari tangan mulai dingin. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Lha wong Mbak Hawin menutupi wajahnya begitu. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Keberuntungankah? Aku duduk di belakang, tempat favorit.




