Anakku Yang Nakal

Makin lama makin jelas. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Bokep Ah sialan. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Nafasnya tercium hidungku. Apa katanya nanti? Sial. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Masih ada esok. Bodoh, bodoh, bodoh. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Ke bawah lagi: Tidak. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Bodoh amat. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Aku berhasil. Wajahku merah padam. Bibirku melumat bibirnya.“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku.“Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi.

Anakku Yang Nakal

Related videos