“Okay.. Bokep colmek “Ahh.. “Tapi ada syaratnya..”
Sial! “Mau kemana Ray? “Kamu ada masalah apalagi dengan Enni?”
“Biasa, sifat kekanak-kanakannya belum mau hilang.”
“Ya sudahlah, tadi dia nangis telpon aku..”
“Lalu? Dan mengomeliku karena tidak pernah menghubungiku lagi sejak perpisahanku dengan Enni. Pathetic, untuk cowok sepertiku. Matanya terpejam. Ah, aku sendiri heran, mengapa perpisahan yang kali ini membuatku sedikit sakit hati. “Ah.. nggak apa-apa. Nikmat, anganku semakin melayang. Kuangkat lagi gagang telpon, menekan beberapa nomor. Kamu harus lebih pengertian.” Kubanting stir ke kiri, memasuki jalan menuju ke luar kota yang ditumbuhi pepohonan, jalan itu terlihat sepi dan gelap. Kamu?”
Lalu Nia bercerita tentang bagaimana ia setelah lulus SMU, berangkat ke Jakarta untuk meneruskan kuliah D1 di sebuah universitas negeri di sana. Cukup lama dan melelahkan untuk berpura-pura seperti itu. Nia.. Kuakui aku masih buta melakukan hubungan seksual, kalau peting sih sering.




















