” Dah sarapan mbak? Bokep Kesadaranku belum begitu pulih.Aku mencoba menepis pikiran itu, bagaimanapun itu bukan diriku yang sebetulnya. Dia terdiam berbagai saat,aura wajahnya berubah. ” Jangan den..dosa….”Jawabnya ketakutan. “Terus Den?” Tanyanya penasaran. Bunyi derit ranjang kayu itu meningkatkan seru suasana. Tanganku telah kesana kemari meraba tubuhnya, jemariku lincah menggosok2 kurang lebih selangkanganya. Nafasnya tersengal, wajah itu tetap terkaget2 dengan apa yg sedang aku perbuat. Aku sedikit luar biasa penisku serta menusuknya kembali di dalam, mbak Juminten kembali tersedak,urat lehernya menegang, matanya menatap ke arah selangkangan, lelehan air mata itu tetap mengalir dipipinya. “Den..telahlah den…jangan..telahlah..mbak gak jadi pinjem uang..sudaaah..”Jeritnya ketika aku kembali menduduki perutnya. “Ahhh…shhh…oohhh..” Desahku,terasa nikmat menjalar melewati kejantananku hingga naik ke otak, aku semacam terbakar. Dia terdiam berbagai saat,aura wajahnya berubah.




















