“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Bokep rusia Mbak Wien sudah turun. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Aku meringis menahan sensasasi yang waow..! Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Betul-betul keras. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Ke bawah lagi: Tidak. Aku tidak berani menatap wajahnya. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa.




















