Dia tersenyum. Sekilas tampak buah dadanya seperti besar, puting susunya mengintip samar-samar dari balik Kamisol-nya.“Ya begitu..!”
Lia tersenyum manis sekali menghadap ke kamera, rambut sebahunya jatuh ke depan menutupi sebagian wajahnya yang cantik. XNXX “Deal..!”
Aku mengerti sekali doi tidak ingin fotonya itu tersebar kemana-mana.“Tapi ini sukarela lho.., maksud gue karena bukan buat publikasi jadi nggak ada honor apapun.” jelasku, si Ivan mendengarkan serius sekali. Saat kuhampiri, dia seperti menunggu. Kujepret habis. Rasanya aku tidak sanggup lagi untuk hanya motretin, namanya juga bukan profesional.“Tahan posisinya ya Lia..!” aku menghampiri Lia lagi yang masih dalam posisi menungging. “Ready, do you..?” tanyaku pada Lia. Kedua tangannya tetap mengangkat sambil memainkan rambutnya, lalu ia sedikit menggeliat. “Oke deh tapi jangan terlalu di ekspos ya..?” pintanya. “May I..?” tanyaku sambil mencoba melepaskan tali Kamisol di bahu Lia hingga jatuh. “Thanks.” ucapnya pelan. Doi kecewa, karena saat film-nya kuproses (tentu saja kuproses di kamar




















