Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Bokep indo terbaru Lho, salon kan tempat umum. Shit! Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Bicara apa? Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Aku mengikutinya. Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa tujuan jelas bolak-balik ke ruang pijat.Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Yes. Ini kesempatan kedua. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga.










