“Thanks,” bisikku padanya. Bokepindo Beberapa saat kami saling pandang sampai akhirnya ia tersenyum. “Perjaka,” bisiknya dengan tersenyum. Aku terkejut saat melihat ada air mata di situ. Akhirnya aku menawarkan untuk mengantarnya pulang. Kurasakan jemarinya menyisiri rambutku. “Apa kerjamu tadi?”
“Di sebuah perusahaan distributor material bangunan.”
“Oh ya, aku lupa. Let’s fuck.”
“Aku tak suka istilahmu.”
“Terserah. “Relaks,” bisiknya di depan bibirku. “Hey !” seruku. Kupejamkan mataku. Kutolehkan kepalaku dan meraih bibirnya. Kita impas?” Aku menoleh dan melihat ia masih dengan senyumnya menatapku. Tak berapa lama kemudian aku sudah duduk dalam keadaan telanjang bulat. Wajahku memanas lagi. Fantasi tentang hari yang begitu luar biasa, saat aku kehilangan keperjakaanku di tangannya. Saat kubuka mataku, kulihat ia menatapku. Ia melepaskan bibirnya dan menggeleng, saat aku bergerak hendak memeluknya. Namun bukannya langsung pulang, di jalan ia memintaku untuk berhenti di Dunkin’s. “Thanks,” katanya sambil tersenyum. Katanya, “Aku masih ingin dibelai dan dikecup.” Aku tersenyum dan




















