Kubayar, lalu kembali ke garasi.“Keluar…!”Dengan wajar kugandeng dia masuk kamar. ke… napaa.. Bokep hijab Kami seumuran atau paling tidak dia lebih tua dua tahun dariku. Kukunci dan kusuruh dia telentang di kasur yang empuk. Tapi aku tidak pergi melihatnya. Aku hanya bisa tersenyum kalau mengingat masa itu. Terserahlah, apakah dia marah atau bagaimana. Sesekali dia juga ikut mengusap batang kemaluanku dengan air ludah yang dikeluarkannya lagi di telapak tangannya. Kuangkat dia ke ranjang. salahku?” dengan ketakutan dia berusaha membuatku luluh.“Salahmu adalah… kamu memamerkan tubuhmu di hadapan singa lapar…”Segera, seluruh bajunya kusobek dengan pisauku yang tajam. Cairannya mengalir lagi walau tidak sebanyak yang tadi. Aku iba juga. Siapa tahan.“tonhhh… bajiingann!” untuk kesekian kalinya dia mengumpatku.Entah apa maksudnya. ampunn.. Aku memandanginya dengan sayang. Kami tergeletak berdampingan, tanpa pakaian.“ton… kamu berhutang padaku, suatu saat aku pasti menagihnya.”“Hutang apa?” tanyaku.Dia tidak menjawab. Sejenak dipandanginya diriku.




















