Bapak ibumu tu yang harusnya kasihan, punya anak tampang kacung kaya elo, Goblok lage! XNXX Lets f*ck!” kata-katanya meluncur cepat diantara nafasnya yang tersengal, tangannya sudah berada dibalik celana kolorku. Tedengar suara cebur air, itu merupakan tanda bahwa Bulik sudah mandi, perlahan-lahan aku menaiki kursi tua di pojokan. Angin dingin langsung menerpa kami berdua. Kadang-kadang manukku keluar cairan bening, agak-agak lengket. Perlahan dia menundukkan tubuhnya, bibirnya yang merekah itu membuka. Sinetron di TV masih memainkan perannya, demikian juga aku.“Tok…tok?” Kudengar suara Bulik pelan memanggil namaku. Bulik tidurnya benar-benar seperti orang mati, nyenyak sekali, mungkin karena kecapekan kali. Dia menoleh lagi ke arahku. Mereka bercakap-cakap sebentar lalu bulik Tin meletakkan gagang telepon menandakan percakapan sudah selesai.




















