Aku menggelinjang sesaat setelah air berwarna kekuningan itu terkuras habis, membuat organ tubuhku itu berangsur-angsur mengendur dan layu.Aku lalu memutar sebuah tungkai penyiram air pada kloset. Sejenak kuperhatikan bayanganku yang terpantul jelas pada cermin lebar yang terletak persis di hadapanku. Bokepindo aktifin tuh handphone-nya..!”
“Klik!” Mulutku seakan terkunci rapat, tak dapat bicara ketika kemudian wanita itu berhasil mengeluarkan batang-tubuhku dari sarangnya dan kemudian membenamkan kepalanya di antara pangkal pahaku. Kulihat celana pendek hitamku tergeletak pada sebuah bangku kecil di depan meja rias itu. “Akh..! Aku bangkit dari tempat tidur. Kulihat Linda masih tak bergerak. Saat itu dapat kulihat dengan jelas betapa tulang giginya telah habis, membuatku menjadi geli menahan tawa, apalagi ketika ia tersenyum-senyum memperhatikan bagian tubuh di bawah perutku. “Nggak masalah kok, Lin.. Aku lalu memesan segelas bir dan mulai larut menikmati suasana santai yang temaram saat itu.




















