Aku bersyukur,mereka tidak datang sejak tadi mengingat tempat kami berkarya tadi relatifsangat terbuka. Bokep china Desahan nafas kamisama-sama memburu bagaikan bernyanyi dengan alam Kedung Kayang yang angkerkeindahannya. Kugesek-gesekkan kaki kiriku ke pangkal pahanya, matanya merem melek tak tahu sudah sampai di mana otaknya yang melayang. Kini matanya terbuka, dipandanginya aku dengan sorot yang tak bisa kulukiskandengan kata-kata, lalu dengan cepat mulutnya menyambar mulutku. Mata kami hanya saling beradu, cukup lama… Kami tidaktahu mau berkata apa, tetapi kami juga tidak merasa menunggu apa-apa. Dan apa yang kami rasakan pastilahbisa kalian bayangkan saudara-saudaraku…Tak berapa lama kemudian, kami putuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah,kepalang tanggung, jam sudah menunjuk angka dua. Keduatanganku memegangi kedua sisi rahangnya, lidah kami menari bersama.




















