“Vaginamu sangat nikmat di penis kerasku, sayang. Aku ingin merasakan sperma Ayah menetes ke kakiku saat aku katakan janjiku di depan pendeta.”“Ohh, sayang. Bokep hd Aku tersenyum pada kelakarnya dan ketika dia berjalan sepanjang aula, aku tidak bisa mempercayai reaksinya pada perlakuanku yang dengan pelan memukul pantatnya.“Mungkin nanti, Ayah bisa mencobanya saat aku tidak memakai pakaian gembung ini.”
Gaunnya turun hingga ke bawah lututnya dan itu terlihat indah, kaki-kaki itu laksana sebuah magnet yang membuat mataku lengket selalu menatapnya saat menggerakkan keindahan ini, saat wanita muda itu melenggang pergi. Aku mulai untuk mencoba katakan sesuatu, tapi Endang memotong..“Ayah,” dia berkata. Waktu yang pernah kita lewati bersama sangat berharga.” Erna menambahkan ketika dia tetap membelai dadaku, kemudian dia dengan lembutnya mencium leherku. Aku berdiri, penisku masih keras tapi tersembunyi oleh pakaian resmi yang kupakai. “O-o.., sebaiknya Ibu tidak melihat.




















