Aku masih mematung. Bokepindo “ Ya sekarang Sayang..! Dari perut turun ke selangkangan. Atau jangan-jangan dia juga disuruh ibunya bayar arisan. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Aku tidak menjepit badannya. Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Aku masih penasaran, dia seperti tanpa ekspresi. Ya nggak apa-apa, ” katanya menjawab telepon. Aku harus memulai. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Dia menikmati, tangannya mengocok Kejantananku. ” dia mendesah keras. Di balik kain tipis, celana pantai ini dia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Kejantananku. “ Besar ya..? Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Aku bergegas naik angkot yang melintas. Dia hanya mengelus tanpa tenaga. Aku harus, harus, harus..! Tidak perlu diantar. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, selangkangan. ” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.




















